Usai sudah perjalanan panjang The Super Insurgent Group of Intemperance Talent (The S.I.G.I.T.) mengarungi tur panjang pertama mereka di Australia. Tur yang terdiri dari enam belas kali pertunjukan di sembilan kota ini berakhir dengan sangat menyenangkan.
Banyak pengalaman yang direguk band dari perjalanan panjang ini. The S.I.G.I.T. menjalani sebuah tur panjang sebagai supporting artist untuk band rock garda depan Australia, Dallas Crane. Termasuk turun naik panggung dan merasakan bagaimana bermain di depan crowd yang tidak apresiatif dan sebaliknya.
“Pada mayoritas show, crowdnya masih bingung atau kaget atau bahkan under estimate, ‘Ngapain nih orang Asia naik ke panggung.’ Tapi mulai dari tengah pertunjukan sampai akhir show, mereka mulai bergerak dan memberikan respon yang hangat. Terlebih selepas show. Banyak yang terima kasih ke kita. Aneh juga. Pertama kalinya untuk saya, ada orang terima kasih ke saya karena telah bersedia menghibur dia,” kenang Rektivianto Yoewono, vokalis sekaligus gitaris band.
“Crowdnya nggak tahu siapa yang lagi main. Karena kita asing untuk mereka. Setiap show kita main antara sebelas sampai dua belas lagu. Mereka mulai goyang biasanya setelah tengah set. Apalagi yang paling responsif kalau kita giliran main di urutan kedua. Karena supporting band si Dallas Crane ada dua,” tambah Donar Armando Ekana, pemain drum.
Banyak pula pelajaran yang mereka dapatkan dari sebuah kultur pertunjukan yang beberapa langkah lebih maju ketimbang apa yang biasa mereka hadapi di Indonesia.
“Sebenarnya kesalahan kita bukan pada sumber daya. Ada yang salah di sini. Sebenarnya variasi manusia aja. Kita selalu punya pikiran bahwa alat-alat bule itu bagus. Tapi ternyata tidak. Fasilitas mereka juga sama aja sebenarnya dengan apa yang kita punya di Indonesia. Minim juga kadang-kadang. Tapi, toh semuanya jalan aja. Bedanya, di sana semuanya terkoordinir dengan baik,” jelas Rektivianto tentang fasilitas yang mereka dapatkan di sana.
“Kita belajar banyak. Biasanya ada orang yang mendampingi saya ketika main di Jakarta atau Bandung. Tapi tidak di sini. Saya harus bisa sangat mengerti kebutuhan saya, karakter saya di atas panggung. Karena kalau ada masalah, saya tidak bisa mengandalkan Badot (sound engineer yang menyertai mereka ke sana). Begitu juga yang lain. Secara dasar teoritis praktek semuanya harus dimengerti. Di sana, kita kayak band yang baru mulai. Kayak dari nol lagi. Ya, memang kondisinya seperti itu. Karena buat pasar sana, kita orang baru,” imbuh Rektivianto panjang lebar.
“Banyak pelajaran yang bisa kita petik juga dari band yang kita dukung, Dallas Crane,” Donar menambahkan. Dallas Crane yang mereka dukung sepanjang tur ini hanya beranggotakan tim teknisi yang sangat sedikit, tapi selalu mampu bisa menghasilkan keluaran yang sangat maksimal. Sangat efisien.
The S.I.G.I.T. perlu perjuangan ekstra keras untuk bisa menjalankan tur perdana mereka di Australia ini. Ijin kerja dari pemerintah lokal baru keluar satu hari menjelang keberangkatan mereka. Ditambah lagi serangkaian halangan teknis dan non teknis yang menyertai menjelang keberangkatan. Kepastian tur ini juga didapatkan dalam waktu yang sebenarnya tidak ideal untuk melakukan sebuah tur panjang.
Karena keterbatasan, mereka hanya berangkat dengan rombongan kecil yang beranggotakan enam orang; empat orang personil band, manajer sementara, dan sound engineer reguler mereka. Sama sekali tidak ada roadies di dalam perjalanan ini. Mereka seolah kembali ke tahap di mana mereka memulai karir dulu, semuanya dilakukan dengan tangan sendiri.
“Turnya sangat panjang dan sangat melelahkan. Tapi sama sekali tidak membosankan. Setiap kota yang kita datangi memberikan satu hal yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya,” tutur Rektivianto lagi.
Tur ini merupakan sebuah awalan yang bagus. Debut fenomenal mereka, Visible Idea of Perfection sudah dirilis secara resmi di Australia. Target berikutnya sudah mereka tentukan, sebuah tur lanjutan yang skalanya lebih besar.
Rektivianto memprovokasi orang untuk mengikuti langkah mereka, “Kalau main band, jangan setengah-setengah. Jangan menentukan target yang picik. Kemungkinannya sudah sangat terbuka.”
The S.I.G.I.T. adalah empat orang sahabat lama: Rektivianto Yoewono (vokal, gitar), Aditya Bagja Mulyana (bas), Donar Armando Ekana (drum, vokal), dan Farri Icksan Wibisana (gitar). Keinginan kuat mereka untuk bertahan dan memainkan musik yang mereka suka membuat langkah mereka berjalan jauh dari yang bisa dibayangkan oleh orang banyak.
Mereka telah membuat sebuah tonggak sejarah baru untuk musik Indonesia. Bermain musik untuk crowd yang asing dan didominasi oleh orang asing selama dua puluh enam hari tanpa henti. Sekaligus membuka mata orang banyak bahwa musik bisa menembus batasan yang dibuat oleh manusia. Di samping memberitahu kepada orang banyak bahwa Indonesia punya talenta besar yang tidak kalah hebat ketimbang hegemoni budaya orang barat yang begitu diagungkan selama ini.
“Jangan pernah berhenti bermimpi,” Farri Icksan Wibisana menutup pembicaraan malam itu.
Terima kasih banyak dan besar hormat atas dukungan seluruh pihak yang membuat pihak FFWD Records dan The S.I.G.I.T. telah berhasil mengukir sebuah langkah baru untuk musik Indonesia. (pelukislangit)
Untuk informasi lebih lanjut:
Felix Dass
FFWD Records
Jl. Dr. Setiabudhi 56
Bandung – Indonesia 40141
Ph. 022-2032740
Fax. 022-2032740
Mob. 081-8161901
Email. felixdass@ffwdrecords.com
Web. www.ffwdrecords.com | www.myspace.com/ffwdrecordsindonesia
0 Responses to “The S.I.G.I.T. – Australian Tour 2007: Wrapped!”
Leave a Reply